Dalam dunia pendidikan, masalah motivasi selalu menjadi hal yang menarik perhatian. Hal ini dikarenakan motivasi dipandang sebagai salah satu faktor yang sangat dominan dalam ikut menentukan tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan.

Walaupun diakui bahwa kemampuan intelektual yang bersifat umum (inteligensi) dan kemampuan yang bersifat khusus (bakat) merupakan modal dasar utama dalam usaha mencapai prestasi pendidikan, namun keduanya tidak akan banyak berarti apabila siswa sebagai individu tidak memiliki motivasi untuk berprestasi sebaik-baiknya. Kemampuan intelektual yang tinggi hanya akan terbuang sia-sia apabila individu yang memilikinya tidak mempunyai keinginan untuk berbuat dan memanfaatkan keunggulannya itu. Apalagi bila individu yang bersangkutan memang memiliki kemampuan yang tidak begitu menggembirakan, maka . . .

lebih lanjut silakan klik

14 Comments on Motivasi dalam Belajar

  1. rika apriani says:

    artikel nya sngat membntu dlm pembuatan skrip sya .
    tp yg msh sngat sya bingung ., teknik pengumpulan data untuk memgungkap motivasi belajar itu sndri apa ??

    lalu apakah skala itu termasuk k dalam teknik pengumpulan data atu tidak ?

    trims .

    [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ’0 which is not a hashcash value.

  2. pak SA says:

    Sdr. Rika,

    ‘Motivasi dalam Belajar’, sebagaimana berbagai atribut nonfisik yang lain, dapat diungkap dengan menggunakan skala psikologi yang merupakan salah-satu bentuk instrumen pengukuran psikologis.
    Skala Motivasi Belajar ini harus dirancang dan dibuat oleh ahli pengukuran, atau kalau untuk keperluan riset skripsi mungkin juga dibuat oleh mahasiswa yang telah terlatih, di bawah bimbingan ahli. Kalau sdr. kebetulan adalah mhs psikologi yang telah belajar menyusun skala psikologi, sdr. dapat melakukannya sendiri dengan bimbingan dosen. Tentu saja nanti kualitas skala yang dihasilkan (validitas dan reliabilitas) perlu diuji terlebih dahulu sebelum digunakan dalam pengumpulan data.

    Ada bentuk-bentuk skala motivasi belajar yg sudah pernah digunakan baik di luar negeri ataupun di dalam negeri. Kalau konsep teoretik dan tujuan ukurnya sama dengan yg kita kehendaki, tentu dapat digunakan. Itupun seringkali harus dengan mengadaptasi (bahasa dan budaya) dan menguji ulang validitas dan reliabilitasnya.

    Skala psikologi adalah INSTRUMEN, bukan teknik pengumpulan data.

    SA.

  3. rika apriani says:

    maav, pak sya bner2 awam . Tapi dari penjelasan bpk d atas sya sdh Lumayan mengerti.

    sprti yg bpk sebutkan d atas, bhwa ad skla2 motivasi bljr baik d luar maupun dlm negri ., apa sya boleh mnta referensinya sbg contoh buat sya, pak ??

    oia pak, yang termasuk k dalam teknik-teknik pengumpulan data itu apa saja yah , pak ? ini smw untuk mnmbah pengetahuan sya .. cz sya bner2 kurang mengerti.

    trims

    [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ’0 which is not a hashcash value.

  4. pak SA says:

    Sdr. Apriani;

    Untuk skala motivasi belajar yang pernah dibuat di dalam negeri kebanyakan ada di skripsi atau thesis mahasiswa psikologi. Cobalah datang ke perpustakaan Fakultas Psikologi terdekat atau ke Fakultas Psikologi UGM.
    Untuk yang dari luar negeri, coba googling saja dengan kata kunci ‘academic motivation scale’, nanti muncul ratusan referensi. Ada juga buku “Social Psychological Attitude Measures’ kalau tidak salah namanya, yang memuat berbagai contoh skala berbahasa Inggris.

    Mengenai macam-macam teknik pengumpulan data, itu tidak untuk ditanyakan di forum ini tapi sdr baca langsung di buku-buku metodologi penelitian.
    Btw, untuk pertanyaan selanjutnya silakan gunakan laman Tanya-Jawab.
    SA

  5. Prihadhitya Ramadhan says:

    Assalamualaikum.wr.wb.

    artikel yg bapak kirimkan sangat bermanfaat, saya mahasiswa fakultas psikologi yg sedang meneliti mengenai motivasi belajar siswa…saya menemukan kesulitan untuk menentukan landasan teori yg digunakan untuk menyusun skala psikologi mengenai motivasi belajar…

    saya menemukan bahwa terdapat ciri2 yg mampu meningkatkan motivasi, di dalam buku yg berjudul “motivasi belajar dan pengukurannya” dan saya akan menggunakan ciri-ciri tersebut sebagai landasan pembuatan item pernyataan pada skala psikologi yg saya buat,namun saya menemukan ada aspek dalam ciri tersebut yg sama, yaitu Tekun dan tidak mudah putus asa..apakah saya bisa menggabungkan aspek tersebut menjadi 1 aspek saja? atau bgm pak…

    soalnya ketika berdiskusi dgn pembimbing saya, ada yg membolehkan menggabung karena dianggap akan mengungkap hal yg sama, ada jg yg mengatakan harus dipisah, karena kurang tepat jika kita menggabungkan aspek-aspek dalam ciri2 motivasi belajar yg telah dipisah…

    mohon penjelasannya pak,terima kasih…

  6. pak SA says:

    Waalaikumussalaam wr wb.,
    Sdr Prihadhitya;
    Kalau saya, saya akan menggunakan salah-satu teori motivasi yang banyak dijumpai dalam textbook social psychology. Tinggal menentukan apakah menggunakan pendekatan motivasi sebagai suatu ‘need’, misalnya (seperti dalam teori Maslow), atau motivasi sebagai suatu ‘drive’ seperti kebanyakan teori Behaviorisme. InsyaAllah tidak akan ada aspek yang rancu.
    Tapi kalau tetap akan menggunakan acuan yg disebutkan itu, tinggal memahami saja apakah ‘tekun’ dan ‘tidak mudah putus asa’ itu memang merupakan konsep yg sama atau tidak? Kalau sama ya disatukan saja. Kalau tidak, ya dipisah. Nanti akan kelihatan bedanya dalam rumusan indikator masing-masing.
    Wassalam,
    SA

  7. prihadhitya ramadhan says:

    terima kasih atas penjelasannya pak…kesimpulan yang saya tangkap, jika “tekun” dan “tidak mudah putus asa” adalah konsep yang sama maka gabungkan saja, namun jika tidak,maka harus di pisah…jadi tidak perlu landasan apa-apa jika menganggap bahwa aspek dalam ciri motivasi tersebut merupakan konsep yang sama, cara mengetahuinya adalah dengan menanyakan ke pembimbing atau mencari validator ahli,apakah bisa seperti itu pak?

  8. pak SA says:

    Kalau mungkin diskusi dengan penulis bukunya, baik sekali. Penulis buku tersebut yg membuatnya terpisah. Mungkin ybs punya alasan atau penjelasan sendiri yang belum kita mengerti.
    Kalau tidak dapat, coba diskusikan ke pembimbing atau siapa saja yang berkompeten (dosen mata kuliah yg besangkutan misalnya).
    Wassalam,
    SA

  9. awal says:

    ass, prof, sy bertanya, bgm menyusun skala persepsi siswa terhadap mata pelajaran tertentu ??, mohon bantuannya prof…

  10. pak SA says:

    Awal;
    Cara menyusun skala persepsi mirip dengan cara menyusun skala sikap, dalam hal ini objek persepsinya adalah mata pelajaran. Sayangnya tidak mungkin diuraikan di sini caranya karena akan jadi sangat panjang.
    Coba baca buku saya tentang ‘Sikap Manusia’
    SA

  11. awal says:

    terima kasih prof, atas masukannya.buku prof yang judulx sikap manusia itu, terbitan terbaru ya prof, ??????

  12. pak SA says:

    Bukan! yang terbaru adalah ‘Reliabilitas dan Validitas’ edisi 4 dan ‘Penyusunan Skala Psikologi’edisi 2.

  13. awal says:

    assalamu alaikum prof, sy sementara lg menyusun tesis yang berjudul pengaruh perhatian orang tua, kreativitas belajar, persepsi tentang matematika dan motivasi belajar terhadap hasil belajar, dari judu itu prof sy menggunakan analisis jalur, dengan variabel antara motivasi belajar. di sini sy bingung prof, apakah kreativitas belajar mempengaruhi motivasi belajar ??, atau malah sebakliknya, saya butuh saran prof, bagaimana menghubungkan antara kreativitas belajar dengan motivasi belajar, ??, dan kalau bisa, dimana sy dapat referensi yang mengubungkan variabel kreativitas belajar dengan motivasi belajar,,??. mohon di balas prof,
    terima kasih sebelumnya

  14. pak SA says:

    Wa alaikumussalam, Awal.
    Bukankah jelas dari pernyataanmu sendiri bahwa Kreativitas dan Motivasi adalah variabel independen?
    Untuk teori mengenai hubungan diantara keduanya coba digoogle saja kalau tidak tersedia textbook di perpustakaan.
    SA

Leave a Reply

*


eight − 3 =

Current ye@r *